Kalimantan memiliki keanekaragaman jenis satwa yang tergolong tinggi. Setidaknya terdapat 222 spesies mamalia, (44 spesies endemik), 13 spesies primata yang semuanya endemik, 10 spesies celurut, 420 spesies burung (37 spesies endemik), 166 spesies ular, lebih dari 100 spesies amfibi, 394 spesies ikan (149 spesies di antaranya endemik).
Tipe hutan di Kalimantan sangat beragam, diantaranya hutan bakau, hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar, hutan kerangas, hutan Dipterocarpaceae dataran rendah, hutan kayu besi (ulin), hutan pada batu kapur dan tanah ultra basa, hutan bukit Dipterocarpaceae dan beberapa formasi hutan pegunungan. Kalimantan memiliki lebih dari 3.000 pohon, termasuk 267 jenis Dipterocapaceae, lebih dari 2.000 jenis anggrek dan lebih dari 1.000 jenis pakis, lebih dari 146 jenis rotan, dan pusat distribusi karnivora kantung semar (Nepenthes sp).
Kalimantan timur yang memiliki luas daratan 19.884.117 hektar dengan wilayah laut seluas 1.021.657 hektar terletak pada posisi 113º47’16” BT, 4º25’17” LU dan 119º01’37” BT, 2º26’31” LS, memiliki hutan lindung seluas 2.533.015,77 ha serta hutan suaka alam dan wisata seluas 1.823.649,96 ha. Kawasan konservasi yang ada di Kaltim meliputi 2 (dua) taman nasional (Taman Nasional Kutai dan Taman Nasional Kayan Mentarang) seluas 1.559.129,00 ha, 3 (tiga) cagar alam (CA Kersik Luway, CA Teluk Adang-Teluk Apar, CA Sedulang-Muara Kaman) seluas 114.400,70 ha, dan 1 (satu) taman hutan raya (Tahura Bukit Soeharto) seluas 61.850,00 ha. Dari peta tutupan lahan terlihat bahwa beberapa kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi telah menjadi kawasan pemukiman (14.268 ha) dan sebagian merupakan lahan tak berhutan (511.314 ha). Kawasan cagar alam (CA Teluk Adang, CA Teluk Apar dan TN Kutai) sebagian besar wilayahnya telah terbuka diakibatkan oleh pembukaan untuk kepentingan industri, tambak dan pemukiman. Sedangkan pada kawasan CA Padang Luway, terbukanya tutupan lahan diakibatkan oleh kebakaran hutan.
Pada tahun 2008, luas lahan yang belum kritis di Kalimantan Timur tinggal 10,9 juta hektar. Kalimantan Timur juga menunjukkan gejala peningkatan kerusakan hutan, dimana Dinas Kehutanan Kalimantan Timur memprediksikan kehilangan hutan rata-rata 1.017.650 hektar setiap tahunnya. Keberadaan hutan sangat memiliki relasi kuat terhadap keselamatan keanekaragaman hayati yang ada, baik terhadap puspa maupun satwanya. Selain kebakaran hutan dan lahan, meningkatnya pemberian perijinan untuk pertambangan, perkebunan skala luas dan industri yang tanpa kontrol, merupakan faktor penting yang mempengaruhi keberadaan tutupan hutan.
Hingga saat ini, status keselamatan keanekaragaman hayati (biodiversity) masih belum menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan pada proses-proses pembangunan. BEBSiC memandang penting untuk mulai memperbincangkan status keselamatan keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur, sehingga para pihak, baik pemerintah, swasta, maupun warga di Kalimantan Timur dapat melakukan refleksi dan evaluasi terhadap kebijakan dan tindakan yang diambil.
Pada hari Sabtu, 22 Mei 2010, pukul 09.00-12.00 wita, bertepatan dengan Hari Biodiversity Internasional, BEBSiC menyelenggarakan Diskusi “Status Keselamatan Keanekaragaman Hayati Kalimantan Timur” dengan menghadirkan nara sumber:
- Ir Wahyu Widhi Heranata, M.P. Kepala UPTD Perlindungan dan Pelestarian Alam Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur
- Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Alam Kalimantan Timur
- Dr Chandradewana Boer, Kepala Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman
- Stanislav Lhota, M.Sc., Ph.D., Department Zoology, University of South Bohemia & Usti nad Labem Zoo
Acara ini terbuka untuk umum dan konfirmasi dapat disampaikan melalui email: bebsic[at]gmail.com atau SMS: 085246006409.


