Archive for the ‘Informasi’ category

Mamalia Nokturnal

February 23rd, 2010

Mamalia nokturnal merupakan mamalia yang beraktifitas lebih banyak pada malam hari.

Mamalia nokturnal memiliki ciri:

  1. Musang Galing

    Musang Galing

    Paling mudah dengan melihat mata disinari. Mata mereka akan memancarkan sinar. Sedangkan satwa diurnal, biar disenteri tidak bersinar matanya.  Jika mata terkena cahaya, mata akan memancarkan sinar. ada yg warna merah, orange, biru, kuning. Mata kukang biasanya bersinar jingga, musang juga berwarna jingga. Payau berwarna kuning kalo dari depan, dari samping biru. Pelanduk (ini hewan crepuscular, bukan nokturnal) warnanya biru. yang merah? itu jenis bajing terbang.

  2. Rata-rata memiliki lapisan tapetum lucidum yg membuat mata mamalia nokturnal sempurna menerima cahaya untuk membantunya melihat di malam hari.
  3. Dianugerahi penglihatan, pendengaran dan penciuman yg lebih tajam dari hewan diurnal.  Semua ini untuk kepentingannya berkreasi di malam hari. matanya silau kalo di siang hari.

Menurut DAKJ, kucing, konon awalnya juga bersifat nokturnal dan liar. Sejak Cleopatra memelihara kucing, disitulah bermula kucing peliharaan. Dan akhirnya sebagian jenis kucing terbiasa aktif di siang hari. Diantaranya Kucing rumah, Singa, Jaguar, dan jenis kucing lainnya. [dakj]

Itik Benjut Tertangkap Pemburu dari Kalsel

April 9th, 2007

“Sungguh malang nasib si benjut, Itik yang jarang sekali dijumpai di perairan danau mahakam harus mendekam dalam kandang bersama puluhan burung belibis lainya. Sesekali hanya bisa berjalan mondar-mandir dalam kandang dan bulunya tampak kusam setelah terkena jaring para pemburu. Entah berapa lama lagi dia akan hidup, karena para pemburu akan segera memotong burung tersebut ketika para tengkulak datang untuk membeli dagingnya”.

Itik Benjut dan Belibis Kembang

Itik Benjut dan Belibis Kembang

22 Maret 2007, di daerah Pela lama berdekatan dengan danau Semayang, Kalimantan Timur, berkunjung ke sebuah penampungan perdagangan burung belibis kembang (Dendrocygna arcuata). Dalam kunjungan tersebut terdapat puluhan belibis kembang mendekam dalam kandang yang dikumpulkan oleh para penangkap. Kunjungan ini merupakan kegiatan survei penelitian untuk mengetahui intensitas laju tingkat perdagangan burung tersebut.

Para pemburu/penangkap berasal dari Kalsel yang memang berprofesi sebagai pemburu belibis. ratusan hingga ribuan belibis dipotong dan dikirim ke Kalsel dalam setiap bulanya. Namun yang terjadi beberapa jenis burung lainya juga ikut tertangkap, salah satunya adalah itik benjut (Anas gibberifrons).

Sungguh sayang sekali, itik yang jumlah popolasinya sedikit dan jarang di jumpai ini harus ikut tertangkap bersama belibis kembang.

Bajing dan Tupai Borneo

February 25th, 2007
Kurang tepat bila ada perumpamaan “sepandai-pandainya Bajing meloncat akhirnya jatuh juga”, yang umum adalah “sepandai-pandainya Tupai meloncat akhirnya jatuh juga”. Namun demikian, si Bajing juga tak mau kalah dan juga memiliki kelebihan dibanding tupai. Kata bajing juga populer dipakai dalam bahasa kita yang menjadi kata sifat, yaitu; Bajingan. “Bajingan itu memperdayaiku, kemudian menguras semua harta benda yang kupunya”

Kedua jenis binatang tersebut sama-sama pintar dan hebat, sehingga orang Indonesia sering menggunkan istilah dari kata bajing dan tupai. Bajing dan Tupai memiliki perbedaan, Tupai sepintas mirip dengan bajing, tetapi berbeda anatomi dan perilakunya. Tupai mempunyai moncong sangat panjang (bagian muka, mulut dan hidung) sedangkan bajing tidak demikian.

1. Tupai
Tupai sebelumnya diklasifikasiskan sebagai primata dan insectivora, tetapi sekarang diperlakukan sebagai suku tersendiri, dan sebagian zoologiwan dikelompokkan sebagai suku tersendiri, Scandentia. Ke-8 jenis Tupaia yang terdapat dipulau Kalimantan sangat mirip satu sama lain, tetapi biasanya dapat dibedakan dengan pengamatan yang hati-hati terhadap pola warna dan ukuranya. Bajing-Tanah moncong-runcing Rhiosciurus laticaudatus kadang bila terlihat dari jauh mirip seekor tupai, tetapi dapat dibedakan dari ekornya yang lebih pendek, tubuh bagian bawah lebih pucat dan jika ditangkap jari kaki depan akan mengalami perubahan dan gigi yang sangat berbeda. Anggota suku tupaidae lainya adalah tupai ekor sikat, yang sepintas berbeda dari tupaia dan merupakan satu-satunya anggotasuku yang norkturnal, dan tupai ekor kecil yaitu ras yang terdapat di pegunungan dan ekornya panjang serta kurus.

Tupai merupakan orde dari scandentia yang memilki satu famili dan mempunyai sebanyak 10 spesies.

Kerajaan (Kingdom) : Animalia

Dunia (Phyllum) : Chordata

Anak Dunia (Sub Phyllum) : Vertebrata

Kelas (Clasis) : Mamalia

Bangsa (Ordo) : Scandentia ( 1 famili, 10 spesies)

Ordo Family Scientific Name Indonesia name
Scandentia
1 Tupaidae
1 Ptilocercus lowii Tupai Ekor Sikat
2 Tupaia glis Tupai Akar
3 Tupaia splendidula Tupai Indah
4 Tupaia montana Tupai Gunung
5 Tupaia minor Tupai Kecil
6 Tupaia glacilis Tupai Ramping
7 Tupaia picta Tupai Cercat
8 Tupaia dorsalis Tupai Bergaris
9 Tupaia tana Tupai Tanah
10 Dendrogale melanura Tupai Ekor Kecil
2. Bajing

Bajing memiliki moncong yang tidak terlalu panjang seperti halnya tupai, bagian muka (mulut dan hidung) relati agak rata atau datar. Bajing memiliki 2 famili atau 2 anak suku antara lain, famili dari Sciuridae (Bajing pohon dan Bajing tanah) dengan jumlah 20 spesies dan famili dari Ptromydae (Bajing terbang) dengan jumlah 14 spesies.

Kerajaan (Kingdom) : Animalia

Dunia (Phyllum) : Chordata

Anak Dunia (Sub Phyllum) : Vertebrata

Kelas (Clasis) : Mamalia

Bangsa (Ordo) : Scandentia ( 2 famili, 34 spesies)

A. Famili Scuiridae

Sebagian bajing ini hidup pada lapisan bawah tanah (teresterial) dan sebagian ada yang hidup di poho (arboreal). Beberapa bajing terlihat sangat mirip, tetapi biasanya dapat diidentifikasi memalui perbedaan pola warna jika binatang ini terlihat jelas. Namun konisi yang ideal jarang sekali, dan banyak bajing tanah hanya terlihat sepintas dalam cahaya yang suram, sedangkan bajing pohon sering tersamar oleh dedaunan atau seperti bayanga di langit. Tropong (Binokular) sangat membantu untuk melihat bajing, dan ada jenis tertentu, kecuali jelarang dan bajing kerdil, cukup mudah diperangkap dalam kandang perangkap untuk diamati lebih dekat. Bajing tanah moncong runcing Rhinosciurus laticaudatus mungkin dari jauh tampak seperti seekor Tupaia karena moncongnya yang meruuncing, tetapi dapat dibedakan dari ekornya yang lebat dan lebih pendek.

B. Famili Pteromydae

Bajing ini dapat terbang (melayang dari atas ke bawah), walaupun tidak dapat benar-benar terbang seperti kelelawar, jenis ini mempunyai membaran diantara kaki depan dan belakang yang memungkinkan melayang jauh diantara pepohonan. Tidak seperti Kubung Malaya , yang juga melayang , ekor bajing terbang tidak terselubung oleh membran.

Bajing terbang kebanyakan norkturnal, dan lebih aktif diantara pepohonan, sehingga binatnag ini sangat sulit dilihat. Bajing terang yang lebih besar terutama aktif pada sore hari. Jika cahaya cukup atau lampu kepala dan lampu sorot yang kuat tersedia, keempat jenis terbesar biasanya dapat dibedakan, terutama dengan binokular. Walaupun demikian, bajing-bajing yang terbang berukuran kecil sampai dengan sedang kelihatan sangat mirip, terutama bajing terbang pipi jingga, bajing terbang pipi kelabu, dan bajing terbang pipi merah sulit diidentifikasi. Pada spesimen musium Petinomys yang lebih kecil dapat dibedakan dengan hylopetes melalui bentu tengkorak. Bajing terbang memiliki ujung ekor putih yang dapat digunakan sebagai ciri pembeda.

Bajing terbang kecil kadang dapat ditangkap dengan jaring kabut pada malam hari, tetapi biasanya ditangkap hanya dengan mencari lubang sarang terlebih dahulu pada batang pohon. Sejumlah besar bajing terbang yang ditangkap dengan cara ini adalah anakan dan sulit untuk diidentifikasi.

Ordo Family Scientific Name Indonesia Name
Scandentia
1 Sciuridae
1 Ratufa affinis Jelarang Bilalang
2 Callosciurrus prevostii Bajing Tiga Warna
3 Callosciurrus baluensis Bajing Kinabalu
4 Callosciurrus notatus Bajing Kelapa
5 Callosciurrus adamsi Bajing Telinga Botol
6 Callosciurrus orestes Bajing Kelabu
7 Sundasciurus hippurus Bajing Ekor Kuda
8 Sundasciurus lowii Bajing Ekor Pendek
9 Sundasciurus tenuis Bajing Bancirot
10 Sundasciurus jentinki Bajing Jentink
11 Sundasciurus brookei Bajing Brooke
12 Glyphotes simus Bajing Kerdil Perut Merah
13 Lariscus insignis Bajing Tanah Bergaris Tiga
14 Lariscus hosei Bajing Tanah Bergaris Empat
15 Dremomys everetii Bajing Gunnung
16 Rhinosciurus laticaudatus Bajing Tanah Moncong Runcing
17 Nannosciurus melanotis Bajing Kerdil Telingan Hitam
18 Exilisciurus exilis Bajing Kerdil Dataran Rendah
19 Exilisciurus whiteheady Bajing Kerdil Telinga Kuncung
20 Rheithrosciurus macrotis Bajing Tanah Ekor Tegak
2 Pteromydae
1 Petaurillus hosei Bajing Terbang Hose
2 Petaurillus emiliae Bajing Terbang Emili
3 Lomys horsfield Bajing Terbang Ekor Merah
4 Aeromys tephromelas Bajing Terbang Hitam
5 Aeromys thomasi Bajing Terbang Coklat Merah
6 Petinomys hageni Bajing Terbang Kepala Tengguli
7 Petinomys genibarbis Bajing Terbang Berjambang
8 Petinomys setosus Bajing Terbang Dada Putih
9 Petinomys vordermanni Bajing Terbang Pipi Jingga
10 Hylopetes lepidus Bajing Terbang Pipi Kelabu
11 Hylopetes spadiceus Bajing Terbang Pipi Merah
12 Pteromyscus pulverulentus Bajing Terbang Berbedak
13 Petaurista petaurista Bajing Terbang Rakasasa Merah
14 Petaurista elegans Bajing Terbang Totol

Kutemukan Itik Benjut (Anas gibberifrons)

February 19th, 2007

Oleh: Agoes syt

itik benjut (Anas gibberifrons)

itik benjut (Anas gibberifrons)

Berawal dari kegiatan Project “Survey Perdagangan Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata)” di Danau Mahakam Kalimantan Timur (Jempang, Melintang, Semayang) tahun 2005-2006, dalam 12 kali survei lapangan untuk setiap bulanya terlihat burung itu 2 kali terbang dalam jumlah kecil yaitu 5 dan 8 ekor, namum belum dapat teridentifikasi dari suku Anatidae ini. Burung tersebut sangat liar dan sensitif sehingga tiba-tiba saja terbang menghilang ketika kami berusaha untuk mengamati. Pada bulan September 2006 ketika air danau surut, burung ini terlihat lagi dengan jumlah 5 ekor di daerah danau Jempang dekat Desa Lanting Kutai Barat. Burung ini tampak diam di tempat, kemudian berenang, terkadang terbang dan hinggap di tempat kubangan air danau secara berulang-ulang. Jenis ini adalah jenis burung yang akuatik yang selalu bergantung pada keberadaaan air. Sangat masuk akal bila burung ini mempertahankan daerah kubangan yang masih menyisakan air untuk bertahan hidup.

Kesempatan ini tidak kami sia-siakan begitu saja, inilah burung yang lama kami cari beberapa bulan yang lalu. Bersama rekan surveiku Yudistia dan Upik, kami sandarkan perahu berukuran 7 meter bermesin 20 PK di pinggiran danau yang jaraknya sekitar 50 meter dari kumpulan burung tersebut, dan kami mengikatnya dengan tali nilon yang sudah tersedia di depan bagian perahu. Harus bergerak hati-hati agar burung yang kami amati tidak terbang.

Ku ambil teropong bushnel perbesaran 40 x 8, yang tergantung dileherku dan segera mengamatinya, kemudian kusuruh Yudis dan Upik untuk membuka buku panduan burung yang tergeletak di dekat bangku dudukku. Wah tampak jelas sekali bentuk dan warna burung itu, berukuran sama besar dengan belibis kembang kerabatnya itu, tubuhnya berwarna coklat dominan dengan bulatan seperti ukiran di bagian bawah tubuhnya. Di bagian depan kepalanya terdapat benjolan sepert ikan lohan, kemudian ada warna les hijau pada sisi sayapnya. Akupun tersenyum puas dan kupastikan ini adalah itik benjut.

Kemudian kusuruh Yudis dan Upik untuk berganti mengamatinya sedangkan aku membuka buku pandauan. Kulihat kedua temanku pun tersenyum dan menyatakan; iya” benar, aku juga yakin itu adalah itik benjut. Secepatnya kuambil kamera kodak dengan ukuran 4 mega pixel untuk mendapatkan gambarnya. Untuk mendapatkan gambar yang jelas kulekatkan salah satu lubang binokuler pada focus kamera. Ku jepret terus menerus itik benjut itu, mungkin ada sepuluh jepretan yang kuambil dengan harapan utuk mendapatkan gambar yang bagus.

Kutekan menu kamera untuk melihat hasil gambar, kemudian kulihat satu persatu hasil gambarnya. Aku kecewa sekali karena hasil gambarnya tidak bagus, kabur dan tidak jelas. Tapi ini memang karena ukuran kameranya yang cuma 4 mega pixel. Aku dan Yudis berjalan mengendap-endap mendekati kumpulan itik benjut itu secara perlahan, dengan harapan untuk mendapatkan gambar yang lebih bagus. Aku, Yudis, dan itik benjut tinggal berjarak sekitar 25 meter, dan secepatnya kuambil kamera, namun sayang dan aku mengumpat “Sialan”, itik benjut itu terbang menghilang…

Itik Benjut (Anas gibberifrons) merupakan suku dari Anatidae. Suku ini tersebar luas, jumlah jenisnya banyak dan sangat dikenal. Di Indonesia terdapat 13 jenis burung kerabat Anatidae yang tersebar di kepulauan Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali termasuk itik benjut ini. Sedangkan di Kalimantan terdapat 10 jenis yang hidup di beberapa tempat namun jarang di temukan kecuali jenis belibis kembang (Dendrocygna arcuata). Dalam buku Mackinnon di jelaskan pula bahwa burung ini biasa terdapat di Sumatera Selatan, tetapi tidak ada catatan perkembangbiakan. Baru-baru ini tercatat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, tampaknya itik yang paling umum terdapat di Jawa dan Bali. Burung ini adalah burung perenang dengan kaki berselaput dan paruh yang khas, lebar, dan pipih. Tungkai pendek, sayap sempit-runcing dan terletak agak kebelakang, ekor umumnya pendek. Terbang cepat dengan kepakan terus menerus, mengeluarkan suara berupa siulan. Sehingga jenis burung ini adalah jenis burung yang habitatnya berada di daerah peraiaran seperti rawa, sungai, dan danau.

Nepenthes

December 30th, 2006
Nepenthes yang saat ini sudah tergusur kebun kelapa sawit

Nepenthes yang saat ini sudah tergusur kebun kelapa sawit

Nepenthes, pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne. Nama Nephentes diambil dari sebuah nama gelas anggur. Di Indonesia, disebut sebagai kantong semar, dengan sebutan beragam di berbagai daerah, periuk monyet (Riau), kantong beruk (Jambi), ketakung (Bangka), sorok raja mantri (Jawa Barat). ketupat napu (Dayak Katingan), telep ujung (Dayak Bakumpai), dan selo begongong (Dayak Tunjung). Nepenthes tergolong ke dalam tumbuhan liana (merambat) berumah dua, serta bunga jantan dan betina terpisah pad aindividu yang berbeda. Hidup di tanah (terrestrial), ada juga yang menempel pada batang atau ranting pohon lain (epifit).

Kantong Nepenthes merupakan ujung daun yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya. Karenanya tumbuhan ini digolongkan sebagai tanaman karnivora (carnivorous plant), selain Venus Flytrap (Dionaea muscipula), sundews (Droseraceae) dan beberapa jenis lainnya. Tanaman karnivora umumnya hidup pada tanah miskin hara, khususnya nitrogen, seperti kawasan kerangas.

Nepenthes termasuk dalam famili Nepenthaceae dan kelas Magnoliopsida pada umumnya tumbuh pada hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, padang savanna dan tepi danau. Nepenthes tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga Cina bagian selatan. Terdapat sekitar 82 jenis nepenthes di dunia dan 64 jenisnya berada di Indonesia Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) merupakan pusat penyebaran nepenthes di dunia.

Sesuai dengan ketinggian tempat hidupnya, Nepenthes dibagi menjadi tiga golongan, yaitu yang hidup pada dataran rendah (0-500 mdpl (meter dari permukaan laut)), dataran menengah (500-1.000 mdpl) dan dataran tinggi (di atas 1.000 mdpl). Untuk di dataran rendah meliputi jenis N. gracilis, N. mirabilis, N. reinwardtiana, dan N. raflesiana, N. adnata, N. clipeata, N. mapuluensis merupakan jenis yang dapat hidup di dataran menengah. Sedangkan yang dapat tumbuh baik di dataran tinggi meliputi N. diatas, N. densiflora, N. dubia, N. ephippiata dan N. eymae.

Perbanyakan tanaman Nepenthes dilakukan melalui stek batang, biji dan memisahkan anakan. Umumnya Nepenthes yang hidup terrestrial di dataran rendah tumbuh di tempat-tempat yang berair atau dekat sumber air pada substrat yang bersifat asam. Nepenthes juga membutuhkan cahaya matahari intensif dengan panjang siang hari antara 10-12 jam setiap hari sepanjang tahun, dengan suhu udara antara 23-31°C dan kelembaban udara antara 50-70%.

Ancaman terhadap keberadaan Nepenthes di alam adalah akibat pembukaan perkebunan besar, pertambangan dan hutan tanaman industri. Pemberian perijinan kepada pengusaha pada umumnya dilakukan pada areal datar dan cenderung bergelombang, yang pada umumnya merupakan areal hutan kerangas dan hutan rawa. Pada beberapa areal perkebunan besar kelapa sawit di Kaltim, pengusaha enggan meninggalkan kawasan hutan kerangas, yang merupakan habitat Nepenthes, dikarenakan kekhawatiran akan menghadirkan hama bagi tanaman kelapa sawit. Bahkan pada beberapa perusahan juga melakukan penanaman kelapa sawit di areal hutan kerangas yang dibuka. Padahal, habitat hutan kerangas tidak akan mampu mendukung pertumbuhan kelapa sawit, walaupun diberikan perlakuan pemupukan dan pembuatan saluran air.

Bahan bacaan:

  1. Carnivorous plant. http://en.wikipedia.org/wiki/Carnivorous_plant. Diakses tanggal 5 Desember 2006
  2. Mansur. M, Drs, M.Sc. Nepenthes, Kantong Semar yang Unik, Penebar Swadaya. Jakarta.