Posts Tagged ‘satwa’

Mamalia Nokturnal

February 23rd, 2010

Mamalia nokturnal merupakan mamalia yang beraktifitas lebih banyak pada malam hari.

Mamalia nokturnal memiliki ciri:

  1. Musang Galing

    Musang Galing

    Paling mudah dengan melihat mata disinari. Mata mereka akan memancarkan sinar. Sedangkan satwa diurnal, biar disenteri tidak bersinar matanya.  Jika mata terkena cahaya, mata akan memancarkan sinar. ada yg warna merah, orange, biru, kuning. Mata kukang biasanya bersinar jingga, musang juga berwarna jingga. Payau berwarna kuning kalo dari depan, dari samping biru. Pelanduk (ini hewan crepuscular, bukan nokturnal) warnanya biru. yang merah? itu jenis bajing terbang.

  2. Rata-rata memiliki lapisan tapetum lucidum yg membuat mata mamalia nokturnal sempurna menerima cahaya untuk membantunya melihat di malam hari.
  3. Dianugerahi penglihatan, pendengaran dan penciuman yg lebih tajam dari hewan diurnal.  Semua ini untuk kepentingannya berkreasi di malam hari. matanya silau kalo di siang hari.

Menurut DAKJ, kucing, konon awalnya juga bersifat nokturnal dan liar. Sejak Cleopatra memelihara kucing, disitulah bermula kucing peliharaan. Dan akhirnya sebagian jenis kucing terbiasa aktif di siang hari. Diantaranya Kucing rumah, Singa, Jaguar, dan jenis kucing lainnya. [dakj]

Tuna Wisma di Tanah Kelahiran

November 11th, 2007

Tanggal 5 November telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Tak seperti Hari Lingkungan Hidup dan Hari Bumi, hari tersebut tidak diperingati oleh banyak kalangan. Bahkan lebih cenderung dilupakan oleh kalangan pemerintah yang telah membuat penetapannya.

Puspa dan satwa langka (dan dilindungi) selalu digunakan oleh berbagai pemerintah provinsi maupun kabupaten-kota sebagai maskot kebanggaan daerah. Untuk acara pekan olahraga nasional (PON) yang akan diselenggarakan di Kaltim tahun depan, juga menggunakan tiga satwa langka sebagai maskot, yaitu orangutan, pesut dan burung enggang (rangkong). Sayangnya penggunaan satwa (maupun puspa) sebagai maskot, tidak diikuti oleh upaya konkrit perlindungan habitat sebagai rumah berkehidupan bagi puspa dan satwa.

Kekayaan Keragaman Hayati Kalimantan

Kalimantan sangat kaya akan keragaman hayati. Kalimantan memiliki lebih dari 3.000 pohon, termasuk 267 jenis Dipterocapaceae, lebih dari 2.000 jenis anggrek dan lebih dari 1.000 jenis pakis, lebih dari 146 jenis rotan, dan pusat distribusi karnivora kantung semar (Nepenthes sp). Kalimantan Timur tercatat memiliki 133 jenis mamalia atau merupakan 60 % dari jumlah mamalia yang ada di Kalimantan yang jumlahnya mencapai 22 jenis. 11 jenis primata yang ada Kalimantan dapat ditemui di Kalimantan Timur.

Di Kalimantan tercatat sebanyak 141 jenis katak yang termasuk ke dalam 6 famili, 9 famili bangsa Lacertilia, 7 famili bangsa Chelonia serta 133 jenis ular darat. Sementara dari 7 jenis penyu yang ada di dunia, 2 jenis diantaranya sering ditemukan di Kaltim, yaitu jenis penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Kehadiran keragaman hayati di Kalimantan tersebut didukung oleh keberadaan beragam ekosistem yang saat ini sudah semakin terancam keberadaannya. Setidaknya ada 6 ekosistem yang terancam punah di tanah Kalimantan, yaitu Ekosistem Karst, Ekosistem Hutan Kerangas, Ekosistem Mangrove, Ekosistem Rawa Gambut, Ekosistem Dipterocarp Dataran Rendah dan Ekosistem Hutan Berkabut.

Tuna Wisma Akibat Ekspansi Industri

Begitu banyaknya perijinan bagi industri yang menguasai lahan secara luas, telah menjadikan puspa dan satwa langka, bahkan endemik Kalimantan, menjadi tuna wisma (kehilangan tempat hidup) di tanah kelahirannya.

Bapedalda Kaltim mencatat terdapat 179 ijin lokasi yang telah diberikan bagi perkebunan besar swasta dengan luas 1.622.887,12 ha, dan 76 ijin usaha perkebunan seluas 690.686,48 ha, serta 34 hak guna usaha (HGU) bagi perkebunan besar swasta dengan luas 373.191,53 ha. Jumlah perusahaan HPH yang tersisa di Kaltim sebanyak 36 perusahaan dengan luas areal 3.857.655 ha dan perusahaan HTI sebanyak 18 perusahaan yang terdiri dari 4 HTI Pulp, 7 HTI Pertukangan dan 7 HTI Transmigrasi dengan total luas areal 779.367 ha.

Di sektor pertambangan, hingga tahun 2006 Dinas Pertambangan Kaltim mencatat terdapat 509 ijin kuasa pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten-kota, baik ijin penyelidikan umum, eksplorasi maupun eksploitasi, dengan luasan mencapai 1.598.883,80 ha. Bahkan di Kota Samarinda ijin kuasa pertambangan yang diberikan telah melebihi 30% dari luasan kota Samarinda. Bapedalda Kaltim menyatakan bahwa setidaknya terdapat 130 perusahaan pertambangan yang beroperasi di Kaltim, di luar pertambangan minyak bumi dan gas alam.

Begitu banyaknya perijinan yang mengeruk kekayaan alam Kaltim, secara tidak langsung telah menghilangkan rumah kehidupan bagi puspa dan satwa Kaltim, termasuk pesut, orangutan dan burung enggang. Pada beberapa kawasan, ekosistem kerangas yang merupakan rumah bagi kantong semar, juga harus berganti dengan tanaman kelapa sawit. BPDAS Mahakam-Berau menyebutkan terdapat setidaknya 6.402.472 ha lahan kritis di Kaltim dan Bapedalda Kaltim menyatakan 164.057 ha kawasan mangrove Kaltim telah hilang.

Dalam rencana pembangunan Kaltim, Pemprov Kaltim bahkan mentargetkan luasan perkebunan besar kelapa sawit hingga 5,4 juta ha. Ini berarti akan semakin banyak puspa dan satwa, termasuk yang langka dan endemik Kalimantan, akan kehilangan rumah kehidupan mereka. Hingga wajar saja bila penampungan satwa di pusat rehabilitasi dan reintroduksi tak mampu memberikan kamarnya yang layak karena kelebihan muatan, hingga beberapa ekor orangutan harus mati setiap tahunnya.

Berbuat Baik Bagi Satwa Akan Memberikan Kebaikan Bagi Manusia

Dalam sebuah keseimbangan kehidupan di permukaan bumi, sudah selayaknya manusia memberikan sebuah tempat yang layak bagi makhluk hidup lain untuk dapat berkehidupan dengan lebih baik secara bersama. UNEP, organisasi PBB untuk lingkungan hidup, dalam laporannya yang baru dikeluarkan bulan kemarin menyatakan bahwa manusia telah gagal melakukan pengelolaan kehidupan di permukaan bumi.

Memberikan kehidupan yang lebih baik bagi puspa dan satwa akan berdampak pada kehidupan yang lebih baik bagi manusia di sekitarnya. Permasalahan kemiskinan akan terjawab, serta bencana ekologi tak akan lagi menghantui perasaan masyarakat. Kerusakan rumah bagi puspa dan satwa akan memberikan kerugian yang sangat besar bagi kehidupan manusia di masa kini dan masa datang.

Pemerintah sebagai pelayan publik yang menjalankan tata pemerintahan sudah selayaknya mengatur distribusi lahan yang adil bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Penataan ruang dalam bentuk Rencana Tata Ruang Nasional, Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi-Kabupaten-Kota, harusnya telah memberikan ruang kehidupan yang layak bagi puspa dan satwa yang menjadi maskot kebanggaan wilayahnya. Termasuk dengan memberikan ruang ekspresi dan berkehidupan yang lebih baik bagi komunitas lokal yang telah menjalin interaksi ekologi dengan alam kehidupan di sekitarnya.

Fungsi pemerintah sebagai pengatur, sudah sewajarnya dilakukan dengan tidak hanya berpihak pada kepentingan investasi yang menguasai kawasan luas bagi kepentingan segelintir kelompok. Pemerintah harus lebih memberikan layanan bagi pengembangan ekonomi rakyat yang berbasiskan pada pengelolaan hasil hutan, perladangan dan pertanian dengan memberikan dukungan berupa sarana transportasi, industri hilir, peningkatan kapasitas manusia dan teknologi, serta pembiayaan kredit berbunga rendah tanpa jaminan.

Sudah sangat sering didengungkan pernyataan “Bumi ini cukup bagi kehidupan seluruh makhluk diatasnya, namun takkan pernah cukup bagi makhluk yang serakah“. BEBSiC memandang sudah saatnya manusia menjadi pemimpin yang baik bagi makhluk lain di permukaan bumi dan pemerintah berkewajiban untuk melahirkan hukum dan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan bersama, tak hanya kekayaan bagi kelompok kecil semata.

Di Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tahun ini, akan lebih baik bila kita melakukan refleksi terhadap pola berkehidupan. Apakah telah sangat baik memberikan ruang hidup bagi makhluk lain ataukah kita telah berbuat buruk bagi sesama dan makhluk lain. Cinta puspa dan satwa juga bukan ditunjukkan dengan memelihara satwa di dalam kandang atau mengambil puspa dari alam. Berikanlah kebebasan bagi puspa dan satwa untuk tetap berkehidupan di alam bebas, sebagaimana manusia memiliki kebebasan berkehidupan.

Pelatihan Pengamatan Satwa

June 3rd, 2007
Pelatihan Pengamatan Satwa
“Camping and Study”
Sarana Bermain Belajar dan Berpetualang
Samarinda, 12 – 15 Juli 2007
Banyak Pelajar dan Mahasiswa di Kalimantan Timur, ksususnya yang berada di wilayah Samarinda, gemar melakukan kegiatan camping atau berpetualang di alam bebas. Dari berbagai tempat seperti daerah hutan, pegunungan, danau, pantai, air terjun dan lain sebagainya mereka kunjungi. Banyak alasan mengapa mereka melakukan hal demikian, ada yang ingin belajar, bermain, berpetualang, dan berwisata. Dengan demikian camping adalah suatu hal yang sangat menarik untuk dilakukan seseorang.

Ilmu pengetahuan yang diberikan di sekolah atau bangku kuliah yang berkaitan dengan satwa dan habitatnya menuntut pula kepada mereka untuk melakukan kunjungan langsung ke lapangan. Selain itu bagi mereka yang tidak menekuni bidang tersebut, juga sering melakukan hal yang demikian karena kesadaran akan kecintaanya terhadap hidupan liar dan habitatnya.

Di sisi lain keberadaan satwa di alam kian berkurang dan laju kerusakan habitat pun kian meningkat. Pemahaman yang dimiliki mengenai ilmu pengetahuan, seperti degradasi biodiversity, manfaat, animal walfare, kebijakan, serta cara-cara (metode) pengamatan keberadaan satwa di alam dirasakan masih kurang.

Gagasan kegiatan camping and study adalah upaya meningkatkan antusias para pelajar dan mahasiswa yang senang melakukan kegiatan lapangan (camping) agar terus dapat berjalan. Agar lebih menarik dan tidak membosankan camping and study akan menerapkan kegiatan bermain, belajar, dan berpetualang yang nantinya akan menjadi suatu kebutuhan bersama dalam upaya kegiatan konservasi spesies satwa dan habitatnya.

Untuk itu Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC) tertarik untuk melakukan kegiatan pelatihan pengamatan satwa khusunya pengamatan Mamalia, Primata, Aves dan Herpetofauna yang bernuansa camping and study.

Tujuan

  1. Memberikan pemahaman tentang biodiversity dan upaya konservasi
  2. Melatih peserta agar dapat memahami dan menerapkan tekhnik-tekhnik survei satwa khusunya untuk jenis Mamalia, Primata, Aves, dan Herpetofauna
  3. Menjadikan Camping and Study sebagai suatu kebutuhan bersama dalam upaya bagian dari kegiatan konservasi.

Pelaksana Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT-Unmul) dan Laboratorium Ekologi Satwa Liar Fakultas Kehutanan Unmul

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Pelatihan dilaksanakan selama 4 hari, yaitu pada tanggal 12-15 Juli 2007 bertempat di Fakultas Kehutanan Unmul dan Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS)

Bentuk Kegiatan Pelatihan

  1. Materi Kelas, berupa:
    • Biodiversity
    • Kebijakan
    • Materi pengenalan satwa (Mamalia, Primata, Aves, Herpetofauna)
    • Pembuatan laporan
    • Diskusi
  2. Kegiatan lapangan
    • Camping and Study
    • Praktek Herpetofauna
    • Praktek pengamatan Primata/Mamalia
    • Bird Watching
    • Pengamatan satwa di kandang

Pelatih (Trainer)

  1. Dr. Chandradewana Boer (Kepala Pusat Penelitian Hutan Tropis Unmul)
  2. Rustam Fahmi, MP (Dosen Fakultas Kehutanan)
  3. Wiwin Effendy, S.Hut. (BEBSiC)
  4. Albert L. Manurung, M.For. (Kepala Laboratorium Keanekaragaman Hayati Fahutan Unmul) – dalam konfirmasi
  5. Mochammad Syoim, S. Hut. (BEBSiC – Dosen Fakultas Kehutanan)
  6. Ade Fadli (BEBSiC)
  7. Agoes Syt (BEBSiC)

Peserta Kegiatan
Pelatihan akan diikuti peserta sebanyak 30 orang yang terdiri atas: Pelajar SMP, Pelajar SMA, dan Mahasiswa

Waktu Pendaftaran
Pendaftaran akan dibuka pada tanggal 2 Juli 2007 dan akan ditutup sampai
memenuhi kuota 30 orang peserta sebelum acara pelatihan.
Peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 30.000,-/orang

Fasilitas Peserta
Peserta pelatihan akan mendapatkan; Konsumsi dan snak selama pelatihan, Makalah, dan Sertifikat. Apabila menambah kontribusi pendaftaran sebesar Rp. 40.000,- akan mendapatkan kaos pelatihan.

Kelengkapan Peserta

Peserta pelatihan pengamatan satwa diharapkan membawa;

  1. Materi kelas
    • Alat tulis
  2. Kegiatan camping
    • Tenda/Dom, Senter, Pakaian lapangan, obat-obatan pribadi, buku catatan
    • lapangan, Jas Hujan/Ponco/Jaket, Teropong (bila ada)

Kontak Person: Agus Suyitno – 0541-748163 – 085246073425

Itik Benjut Tertangkap Pemburu dari Kalsel

April 9th, 2007

“Sungguh malang nasib si benjut, Itik yang jarang sekali dijumpai di perairan danau mahakam harus mendekam dalam kandang bersama puluhan burung belibis lainya. Sesekali hanya bisa berjalan mondar-mandir dalam kandang dan bulunya tampak kusam setelah terkena jaring para pemburu. Entah berapa lama lagi dia akan hidup, karena para pemburu akan segera memotong burung tersebut ketika para tengkulak datang untuk membeli dagingnya”.

Itik Benjut dan Belibis Kembang

Itik Benjut dan Belibis Kembang

22 Maret 2007, di daerah Pela lama berdekatan dengan danau Semayang, Kalimantan Timur, berkunjung ke sebuah penampungan perdagangan burung belibis kembang (Dendrocygna arcuata). Dalam kunjungan tersebut terdapat puluhan belibis kembang mendekam dalam kandang yang dikumpulkan oleh para penangkap. Kunjungan ini merupakan kegiatan survei penelitian untuk mengetahui intensitas laju tingkat perdagangan burung tersebut.

Para pemburu/penangkap berasal dari Kalsel yang memang berprofesi sebagai pemburu belibis. ratusan hingga ribuan belibis dipotong dan dikirim ke Kalsel dalam setiap bulanya. Namun yang terjadi beberapa jenis burung lainya juga ikut tertangkap, salah satunya adalah itik benjut (Anas gibberifrons).

Sungguh sayang sekali, itik yang jumlah popolasinya sedikit dan jarang di jumpai ini harus ikut tertangkap bersama belibis kembang.

Monitoring Perburuan dan Perdagangan Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di Danau Mahakam

March 30th, 2007

Monitoring Perburuan dan Perdagangan Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di Danau Mahakam, Kalimantan Timur, Indonesia, Tahun 2005-2006.

Oleh :

Gabriella Fredriksson1, Agoes Soeyitno2, Yudistia ABB3, Khasmir4

Monitoring Perburuan dan Perdagangan Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di Danau Mahakam, Kalimantan Timur

Monitoring Perburuan dan Perdagangan Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di Danau Mahakam, Kalimantan Timur

Pada tahun 2004 Gabriella Fredriksson dkk, peneliti dari Universitas Amsterdam menemukan adanya kegiatan penangkapan dan perdagangan burung belibis kembang dalam jumlah yang sangat besar di Danau Mahakam, Kalimantan Timur. Populasi belibis kembang di danau Mahakam (Jempang, Melintang, Semayang) serta di danau kecil sekitarnya memiliki jumlah yang besar yang diduga dapat mencapai puluhan hingga ratusan ribu ekor, hal ini dilihat dari jumlah hasil tangkapan dari para penangkap belibis kembang. Jenis burung ini dapat dijadikan konsumsi seperti unggas peliharaan (Itik), sehingga ditangkap dan diperjualbelikan. Untuk menyampaikan hasil temuan tersebut ke publik, pada 22 Maret 2005 bekerjasama dengan Lembaga Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC) di Samarinda, menggelar Workshop mengenai “Strategi Konservasi Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di Ekosistem Danau Mahakam, Kalimantan Timur”

Dalam kajian tersebut di sampaikan, sejak tahun 2001 penangkap burung belibis kembang dari Banjarmasin (Kalsel) mulai masuk ke daerah perairan danau Mahakam untuk melakukan penangkapan dalam jumlah besar dengan tujan komersil dengan menggunakan belibis jinak dan jaring. Pada tahun 2004, terdapat tiga pedagang belibis yang mempekerjakan lebih dari 50 penangkap secara permanen yang berasal dari Banjarmasin. Tidak ada penduduk setempat yang terlibat dalam perdagangan ini. Jumlah belibis yang ditangkap diperkirakan mencapai antara 120.000 sampai 165.000 ekor per tahun. Dari jumlah ini lebih dari 95% dikirim ke Banjarmasin.

Tingkat penangkapan bila melebihi ambang batas berkelanjutan, maka jenis ini diduga akan menjadi punah secara ekologis dalam kurun waktu sepuluh tahun kedepan, hal ini akan merugikan puluhan ribu nelayan yang tergantung pada produktivitas ekosistem Danau Mahakam, karena belibis kembang berfungsi sebagai motor produktifitas danau Mahakam dengan menyebarkan biji-biji rumput serta berkontribusi memberikan nutrisi (kotoran) terhadap ikan.

Belibis kembang merupakan jenis burung yang tidak dilindungi, dan belum adanya larangan atau batasan penangkapan, sehingga secara terus-menerus selalu ditangkap dan diperdagangkan. Kuota penangkapan untuk belibis kembang di Kalimantan Timur belum dibuat.

Salah satu hasil dari kegiatan workshop tersebut adalah penentuan kuota, yang merupakan langkah tepat untuk membatasi jumlah tangkapan satwa ini agar keberadaannya tetap terjaga di alam. Di daerah Papua sekarang juga banyak terdapat burung belibis kembang yang sudah memiliki kuota penangkapan sebesar 500 ekor untuk setiap tahunnya. Dalam pengajuan kuota penangkapan perlu dilakukan inventarisasi populasi, studi daya dukung habitat, dan studi kelayakan tingkat penangkapan berkelanjutan untuk burung belibis kembang di wilayah Danau Mahakam.

Dalam hal ini BEBSiC, lembaga yang bergerak dalam bidang konservasi sumberdaya alam tertarik untuk melakukan kegiatan di atas dengan melibatkan beberapa lembaga lainya baik dari pemerintah dan non pemerintah. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang memerlukan waktu yang panjang dengan kisaran waktu lebih dari satu tahun untuk mengetahui intesitas laju penangkapan dan perdagangan.

Tujuan Kegiatan

Tujuan umum dari kegiatan konservasi ini adalah memberikan masukan atau informasi bagi pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya keberadaan burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) baik secara sosial, ekonomi, dan ekologi. Upaya rekomendasi kuota penangkapan akan dilakukan sehingga dapat menekan lajunya tingkat perburuan dan perdagangan agar ekosistem danau Mahakam tetap terjaga sebagaimana mestinya.

Tujuan khusus kegiatan ini adalah melakukan identifikasi tingkat laju perburuan dan perdagangan burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di daerah Danau Mahakam Kalimantan Timur, serta melakukan kajian pendugaan kisaran popolasi, serta daya dukung habitat burung belibis di Danau Mahakam.

Hasil Monitoring Tahun 2005-2006

Burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) merupakan jenis burung air yang dapat di konsumsi layaknya seperti Itik yang diternak. Burung ini terdapat dalam jumlah yang besar di kawasan perairan danau Mahakam Kalimantan Timur, yang meliputi; danau Jempang, Semayang dan Melintang, serta danau kecil di sekitarnya. Besarnya permintaan pasar akan daging belibis membuat peluang usaha bagi para penangkap untuk terus memburu dan memperdagangkannya.

Monitoring Perdagangan Burung Belibis Kembang di Danau Mahakam Kalimantan Timur sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 2004 oleh Gabriella Fredriksson peneliti dari Universitas Amsterdam Belanda. Kemudian Lembaga BEBSiC meneruskan monitoring dengan melibatkan lembaga lain untuk tahun 2005-2006 dengan total waktu selama 17 bulan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui intensitas besarnya perdagangan serta melakukan kajian mengenai keberadaan belibis kembang di alam serta daya dukung habitat di Danau Mahakam. Monitoring dilakukan secara reguler, dimana pada setiap satu bulanya dilakukan survey lapangan selama satu minggu yang meliputi kunjungan ke tempat penangkap dan observasi keberadaan belibis di danau Mahakam.

Dari Hasil monitoring yang sudah dilakukan, terdapat 4 kelompok penangkap burung belibis, 3 kelompok berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, dan 1 kelompok berasal dari Pulau Lanting Danau Jempang Kalimantan Timur. Para penangkap menangkap belibis dengan menggunakan jaring dan alat pemancing berupa belibis jinak, menggunakan lampu sorot (menyuar), serta pernah melakukan penangkapan dengan menggunakan racun rumput (Herbisida). Jumlah total penangkap burung belibis kembang mencapai 5 sampai 50 orang penangkap. Penangkapan belibis kembang di pengaruhi oleh musim, pada saat musim kemarau jumlah tangkapan lebih besar di bandingkan musim penghujan.

Jumlah belibis kembang yang ditangkap dan diperdagangkan selama 17 bulan pada tahun 2005-2006 berkisar 27.379 ekor. Pada musim kemarau (Juni-Oktober) antara tahun 2005 dan 2006 terjadi penurunan hasil tangkapan yaitu sebesar 42,16% atau sebesar 6018 ekor. Dari hasil obeservasi langsung, ditemukan bukti adanya belibis kembang dalam kandang yang di tampung atau di kumpulkan oleh para pedagang. Jumlah belibis kembang yang tercatat dalam kandang tersebut selama 17 kali kunjungan mencapai 9546 ekor.

Dari 4 kelompok penangkap belibis kembang di danau Mahakam terdapat 2 pengumpul/pedagang yang menerima hasil tangkapan. Distribusi perdagangan belibis meliputi daerah Kalimanatn Timur meliputi Samarinda, Bontang, Sangata, dan Loa Kulu, sedangkan distribusi ke Kalimantan Selatan adalah ke daerah Banjarmasin yang merupakan penerima pasokan paling besar.

======

  • Kegiatan ini dilaksanakan oleh BEBSiC bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Universitas Mulawarman dan Universitas Amsterdam
  • 1 Peneliti pertama dari Universitas Amsterdam, 2 peneliti kedua dari Borneo Ecology and Biodiversity Conservation (BEBSiC), 3 Peneliti kedua dari Mahasiswa Fakultas Kehutanan Unmul, 4 Asisten lapangan.