Karst Untuk Freeway, No Way !

July 24th, 2009 by BEBSiC Leave a reply »

Batalkan Rencana Tukar Guling Pegunungan Kapur dengan Freeway

Samarinda (24/7). Rencana Gubernur Kalimantan Timur untuk melakukan tukar guling pembangunan jalan bebas hambatan (freeway) dengan kawasan pegunungan kapur (karst) kepada PT Semesta Persada Nusantara merupakan wajah ketidakberpihakan Gubernur Kaltim terhadap kelestarian lingkungan hidup dan keberlanjutan kehidupan warga Kaltim. Keberadaan ekosistem karst bukanlah semata sebagai wilayah wisata, namun karst juga merupakan kawasan bernilai penting bagi ekologi dan sosial-budaya setiap warga negara.

Mochamad Syoim, Acting Director BEBSiC (Borneo Ecology and Biodiversity Conservation Institute), menyatakan bahwa Kalimantan Timur memiliki wilayah ekosistem karst (kapur) yang sangat sedikit. Ekosistem Karst yang merupakan areal-areal dengan lithologi dari bahan induk kapur dan lahan ini, sebagian besar terdapat di semenanjung Sangkulirang, memanjang sampai ke Tanjung Mangkaliat dengan luas keseluruhan hanya 432.817 hektar (2,18% dari luas daratan Kaltim) dan yang masih baik seluas 293.747,84 hektar (67.86% dari luasan ekosistem karst).

Syoim menambahkan, Ekosistem karst memiliki sebuah keunikan sendiri, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman hayati. Sifat yang rentan dari biota gua, merupakan sebuah indikator penting terhadap perubahan lingkungan. Belum banyak jenis biota gua Indonesia yang diungkapkan. Baru sedikit spesies yang teridentifikasi di dalamnya, misalnya beberapa jenis udang, kalajengking, kepiting, isopoda, dan kumbang. Yang juga menjadi arti penting kawasan karst adalah ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya. Termasuk di dalamnya ketersediaan air tawar (dan bersih) bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.

Selain itu, masih begitu banyak keunikan yang dimiliki oleh ekosistem karst, yang menjadikan kawasan ini bernilai penting bagi kehidupan. Termasuk, di saat terjadi kekeringan, maka kawasan ini merupakan tempat diperolehnya tetesan air. Sungai-sungai bawah tanah masih akan terus mengaliri sungai permukaan, selama kawasan ini terjaga.

Kawasan karst, merupakan kawasan terakhir untuk berkehidupan. Kemampuan kawasan ini menyediakan kebutuhan udara, air dan sumber pakan, menjadi kelebihan kawasan ini. Pada fase awal peradaban pun, lebih banyak makhluk hidup yang menggantungkan hidupnya di kawasan karst. Karenanya, banyak ditemui lukisan di dinding gua, yang kemudian juga menjadi catatan atas sejarah kehidupan.

“Bila Gubernur Kaltim terus berkeras untuk menyerahkan kawasan karst (pegunungan kapur) untuk dieksploitasi, maka Gubernur Kaltim telah berkontribusi terhadap hilangnya catatan sejarah kehidupan manusia dan hancurnya pengetahuan serta kehidupan generasi selanjutnya di Kaltim” lanjut Syoim.

BEBSiC mendesak kepada Gubernur Kaltim untuk menghentikan rencana tukar guling kawasan pegunungan kapur (karst) dengan pembangunan freeway, bila benar bahwa Kaltim merupakan provinsi yang berpihak pada lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat. Bila Gubernur Kaltim tetap berkeras untuk melanjutkan rencananya, maka kesejahteraan rakyat yang menjadi visi Kalimantan Timur akan semakin sukar untuk tercapai, karena kesejahteraan tak semata tentang ekonomi, namun juga terkait kualitas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Advertisement

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word