Archive for December, 2006

Nepenthes

December 30th, 2006
Nepenthes yang saat ini sudah tergusur kebun kelapa sawit

Nepenthes yang saat ini sudah tergusur kebun kelapa sawit

Nepenthes, pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne. Nama Nephentes diambil dari sebuah nama gelas anggur. Di Indonesia, disebut sebagai kantong semar, dengan sebutan beragam di berbagai daerah, periuk monyet (Riau), kantong beruk (Jambi), ketakung (Bangka), sorok raja mantri (Jawa Barat). ketupat napu (Dayak Katingan), telep ujung (Dayak Bakumpai), dan selo begongong (Dayak Tunjung). Nepenthes tergolong ke dalam tumbuhan liana (merambat) berumah dua, serta bunga jantan dan betina terpisah pad aindividu yang berbeda. Hidup di tanah (terrestrial), ada juga yang menempel pada batang atau ranting pohon lain (epifit).

Kantong Nepenthes merupakan ujung daun yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya. Karenanya tumbuhan ini digolongkan sebagai tanaman karnivora (carnivorous plant), selain Venus Flytrap (Dionaea muscipula), sundews (Droseraceae) dan beberapa jenis lainnya. Tanaman karnivora umumnya hidup pada tanah miskin hara, khususnya nitrogen, seperti kawasan kerangas.

Nepenthes termasuk dalam famili Nepenthaceae dan kelas Magnoliopsida pada umumnya tumbuh pada hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, padang savanna dan tepi danau. Nepenthes tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga Cina bagian selatan. Terdapat sekitar 82 jenis nepenthes di dunia dan 64 jenisnya berada di Indonesia Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) merupakan pusat penyebaran nepenthes di dunia.

Sesuai dengan ketinggian tempat hidupnya, Nepenthes dibagi menjadi tiga golongan, yaitu yang hidup pada dataran rendah (0-500 mdpl (meter dari permukaan laut)), dataran menengah (500-1.000 mdpl) dan dataran tinggi (di atas 1.000 mdpl). Untuk di dataran rendah meliputi jenis N. gracilis, N. mirabilis, N. reinwardtiana, dan N. raflesiana, N. adnata, N. clipeata, N. mapuluensis merupakan jenis yang dapat hidup di dataran menengah. Sedangkan yang dapat tumbuh baik di dataran tinggi meliputi N. diatas, N. densiflora, N. dubia, N. ephippiata dan N. eymae.

Perbanyakan tanaman Nepenthes dilakukan melalui stek batang, biji dan memisahkan anakan. Umumnya Nepenthes yang hidup terrestrial di dataran rendah tumbuh di tempat-tempat yang berair atau dekat sumber air pada substrat yang bersifat asam. Nepenthes juga membutuhkan cahaya matahari intensif dengan panjang siang hari antara 10-12 jam setiap hari sepanjang tahun, dengan suhu udara antara 23-31°C dan kelembaban udara antara 50-70%.

Ancaman terhadap keberadaan Nepenthes di alam adalah akibat pembukaan perkebunan besar, pertambangan dan hutan tanaman industri. Pemberian perijinan kepada pengusaha pada umumnya dilakukan pada areal datar dan cenderung bergelombang, yang pada umumnya merupakan areal hutan kerangas dan hutan rawa. Pada beberapa areal perkebunan besar kelapa sawit di Kaltim, pengusaha enggan meninggalkan kawasan hutan kerangas, yang merupakan habitat Nepenthes, dikarenakan kekhawatiran akan menghadirkan hama bagi tanaman kelapa sawit. Bahkan pada beberapa perusahan juga melakukan penanaman kelapa sawit di areal hutan kerangas yang dibuka. Padahal, habitat hutan kerangas tidak akan mampu mendukung pertumbuhan kelapa sawit, walaupun diberikan perlakuan pemupukan dan pembuatan saluran air.

Bahan bacaan:

  1. Carnivorous plant. http://en.wikipedia.org/wiki/Carnivorous_plant. Diakses tanggal 5 Desember 2006
  2. Mansur. M, Drs, M.Sc. Nepenthes, Kantong Semar yang Unik, Penebar Swadaya. Jakarta.